header image

Archive for Forest Plant

Mangrove (hutan bakau)

Posted by: | January 6, 2012 | No Comment |

Tumbuhan bakau terdiri dari beberapa suku antara lain Rhizophoraceae, Verbenaceae, Sonneratiaceae, Arecaceae, Celastraceae, dan Combretaceae.  Marga bakau yang paling dominan di Indonesia adalah Rhizophora, Avicennia, Bruguiera dan Sonneratia.  Pertumbuhan bakau Read More…

under: Forest Plant

Adanya berbagai isu tentang kerusakan lingkungan hidup semakin marak akhir-akhir ini.  Indonesia yang secara kebetulan terletak di kawasan tropis Asia tenggara, juga diklaim sebagai pemilik hutan terbesar setelah Brazil dan Zaire. Sehingga dituntut untuk ikut bertanggung jawab terhadap kerusakan lingkungan yang disebabkan oleh kegiatan penggundulan hutan. Tuntutan itu cukup beralasan, sebab kerusakan 1/5 dari 143 juta hektar luas hutan kita saja merupakan kerusakan dari 0,02% luas kawasan tropis dunia.  Namun, tuntutan tersebut terasa berlebihan mengingat yang berpotensi menimbulkan kerusakan lingkungan tidak semata berasal dari penebangan hutan saja.

Untuk itulah, maka dalam sidang ITTO di Yokohama Jepang yg lalu, Indonesia juga mengajak negara-negara barat pun melakukan bersama-sama program Ecolabelling.  Ecolabelling adalah pemberian label-label tertentu pada setiap produk hutan sebagai tanda bahwa pengadaan bahan dan pembuatan produk tersebut telah dilakukan sesuai dengan asas kelestarian lingkungan.  Hal ini dimaksudkan untuk mengantisipasi dan memonitor adanya produk-produk hutan khususnya kayu yg pengadaannya tidak sesuai dengan prinsip-prinsip kelestarian hutan.  Untuk itu para pengusaha perkayuan dituntut bekerja lebih profesional lagi. Agar dapat dihasilkan kayu yang memenuhi fungsi produksi dan keselamatan serta kelestarian lingkungan hidup bersama.

Salah satu jalannya adalah adanya larangan eskpor kayu bulat sejak tahun 1990.  Maka usaha perkayuan semakin marak di Indonesia.  Banyak pengusaha berusaha mencari jenis kayu apa yang cocok untuk ditanam.  Selain bernilai ekonomis tinggi juga bersahabat dengan lingkungan.  Nah, salah satunya dipilihlah kayu Sengon yang permintaannya juga semakin tinggi.

(Pustaka:  Budidaya, Kegunaan dan Prospek Sengon.  Budi Setiawan Atmosuseno. Penebar Swadaya.  Jakarta. 1999)

under: Forest Plant
Tags:

Rumpun-rumpoh pohon kayu kapur barus atau karas banyak terdapat di bagian utara pulau Sumatera dan Kalimantan. Tanpa ditanam, kapur barus tumbuh dihutan-hutan dekat pantai, Tingginya bisa mencapai 15 kaki. Kayu karas sangat disenangi untuk bahan bangunan dan perabot rumah karena mudah diolah, ringan, tahan lama, tidak termakan atau dirusak serangga perusak tiang-tiang kayu. Namun kayu ini mudah dipengaruhi oleh cuaca.

daun kapur barus kecil, lonjong agak kebulat-bulatan. tulang daunnya sejajar, dan berakhir di ujung yang panjang dan langsing.

Untuk mendapatkan kapur barus, yaitu dengan cara menebang pohon-pohon itu. Setelah ditebang pohon dibagi menjadi gelondongan kecil. Lalu gelondongan itu diekstrak agar menghasilkan minyak kapur barus mentah. Hasil ekstrak yang berbentuk besar dan hampir transparan disebut “kepala” dan yang lebih kecil dengan potongan-potongan yang bersih disebut “perut” dan partikel kecil yang digerus dari kayunya langsung disebut “kaki.” Cara lain untuk memisahkan kapur barus itu dari kayu yakni dengan merendam dan mencucinya di dalam air, dan seringkali ditambah sabun. Setelah itu baru disaring untuk dikelompokkan sesuai dengan besarnya hasil saringan.

Tapi sekarang kapur barus ini sudah semakin susah didapat. Dulu perdagangan kapur barus dimonopoli oleh orang-orang Aceh. Mereka menjualnya kepada orang Batak, yang selanjutnya dibeli oleh orang Cina dan Eropa.  Bahkan sekarang kapur barus ini sudah dibuat tiruannya.

(Pustaka: Sejarah Sumatra.  William Marsden. Komunitas Bambu.  Depok, 2008)

under: Forest Plant
Tags:

Kayu Hitam namanya di Indonesia, dan juga disebut dengan nama kayu Eboni. Pohon kayu ini tingginya mencapai 40 m dengan diameter 150 mm.  Batangnya berbentuk tugu, daun lanseolata, rindang dan cabang-cabang menunduk ke bawah. Kayu bagian luar putih dan kasar. sedangkan terasnya tebal berwarna hitam atau coklat kehitaman.

Tempat tumbuh secara alami adalah  tanah bukit rendah yang berbatu atau sepanjang pesisir pantai ke arah pedalaman sampai 10 km. Makin berbatu habitatnya, semakin hitam kayu eboni ini.  Daerah penyebaran kayu ini adalah Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara dan Sulawesi Selatan.  Kayunya termasuk kelas awet 1 dan kelas kuat 1.  Kayu terasnya berwarna hitam dengan garis-garis berwarna coklat kemerah-merahan.

MANFAAT:

Kayu eboni banyak dipakai untuk mebel mewah, perpatungan, ukiran, kipas, alat-alat dekoratif mewah.  Kayu eboni termasuk jenis kayu yang paling mahal, namun juga paling awet. Kayu ini makin lama makin hitam.  Kualitas tertinggi adalah kayu yang bergaris teratur.  Pengawetan kayu dilakukan pada kayu yang sudah 50 tahun terbenam dalam tanah, namun tidak sedikitpun mengalami kerusakan.

(Sumber: Tanaman Delegasi WFC VIII. Endang I, dkk.  Badan Pengelola Gedung Manggala Wanabakti.  Jakarta, 2001)

under: Forest Plant
Tags: , ,

Categories